Postingan

Cita-cita Besar Bapak

Suara adzan dari kaset musholla mulai terdengar. Penanda adzan shubuh akan segera dikumandangkan. Bapak sudah rapi dengan sarung, koko serta kopiahnya dan bersiap-siap pergi ke musholla. Bukan, bapak bukan muadzin ataupun imam. Ia hanya senang bisa sholat di masjid, keinginannya memiliki rumah dekat langgar terwujud sudah. Namanya Kasdi, pembawaannya sesederhana namanya. Bapak adalah seorang sopir yang sudah menekuni profesinya selama 20 tahun lebih. Seorang bapak dua anak yang kini berusia 49 itu lahir di desa kecil di Ponorogo, Jawa Timur. Terlahir dari keluarga petani beranggotakan seorang istri dan delapan orang anak membuat bapak menjadi sosok yang mandiri. Menyusuri sungai, hutan, dan bukit untuk mencari rumput serta kayu adalah kegiatan sehari-hari Bapak dan ketujuh saudaranya. Jangan tanya soal pendidikan, kakek dan nenek hanya mampu menyekolahkan sampai SD. Sebagai anak kelima, bapak merasa memiliki tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Ia sadar betul betapa pen

Menunggu Kota yang Tertata

Bermalam. Beberapa orang memilih bermalam di bawah atap yang nyaman dan tidur di kasur yang empuk. Tapi beberapa orang tanpa pilihan terpaksa tidur di bawah langit suram ibukota dan beralaskan dinginnya tanah. Beberapa memilih tempat pulang yang nyaman saat hujan, terik, dan kelelahan akibat bekerja. Tapi beberapa orang tidak bisa pulang, tidak ada tempat pulang, dan tidak ada pilihan untuk pulang. Sandang, pangan, papan. Sandang pas-pasan, pangan dipaksakan, dan hidup tanpa papan. Itulah sebagian kehidupan jakarta, ibukota suatu negara besar. Kehidupan yang berbanding terbalik dengan sebutan namanya, kota metropolitan. Ruang tinggal adalah suatu lahan untuk didirikannya suatu bangunan untuk manusia tinggal dan berteduh. Dalam tata kota, ruang tinggal seharusnya sudah ditentukan dari awal pembangunan suatu kota. Ruang tinggal yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh dari pusat kota. Tapi inilah problematika Jakarta sekarang. Ruang kosong yang ada dipaksakan menjadi ruang ting
Saat sedang sakit, sering terlintas di pikiran untuk segera sembuh dan berpikir: Kenapa ya kok aku bisa sakit? Salah makan atau kecapaian? Padahal sakit itu selain dari faktor musibah atau virus, tapi lebih sering karena kelalaian kita untuk hidup sehat lho. Misalnya saja dari hal terkecil seperti kurang tidur dan kurang minum air putih yang bisa berbahaya bagi tubuh. Kalau sudah jatuh sakit lalu pergi ke dokter dengan biaya yang mahal, baru deh menyesal. Itulah yang menjadikan motivasi tersendiri untuk tidak sakit dan memulai hidup sehat. Sebenarnya jika dibiasakan sedini mungkin hidup sehat itu sangat mudah dijalani. Berikut tips gaya hidup sehat simpel yang saya lakukan setiap hari: Minum air putih. Trust me, it works guys hahaha jangan lupa untuk minum air putih 8 gelas sehari. untuk minum air putih sendiri punya waktu terbaik lho, seperti saat bangun tidur, sebelum makan, dan sebelum tidur.  Tidur yang cukup di malam hari. kenapa harus di malam hari? karena ternyata tidur yang

The Expression

Gambar
 You can take a pict about everything, but I interest to capture a moment with expression. I captured it!!!  

Perjalanan Pagimu Jakarta

Jangan berharap menikmati pagi yang indah di Jakarta. Bukan udara segar yang akan kau hirup, tapi polusi yang menyiksa hidung juga paru-parumu. Bukan kesunyian pagi yang tentram, tapi nyanyian klakson kendaraan juga cacian penuh maki. Coba saja kau keluar dan nikmati perjalanan pagimu, mungkin banyak cerita yang akan kau tambahkan.Sejuta cerita menikmati jalan di ibukota. Sejuta cara pula menyiasati padatnya kendaraan. Tak adakah solusi berarti wahai para penyelenggara? Perempatan jalan tanpa polisi. Lampu merah yang tak lagi berfungsi. Angkot, mobil, motor yang saling adu gengsi tapi tak peduli sangsi. Kereta yang enggan berhenti. Jam di tangan yang sudah menunjuk angka hati-hati. Dikejar waktu kerja yang sama. Keluar rumah di waktu yang sama. Melewati jalan yang sama. Lalu ramai-ramai orang mencari solusi. Beli motor dan mobil untuk dimiliki pribadi. Tak bosan rasanya membahas ibukota tercinta, khususnya buruknya manajemen transportasi yang terjadi. Fenomena hijrahnya pengguna k

TEKA-TEKI RAISA

"Teka - Teki" Dirimu buatku selalu penasaran Terkadang menjauh, terkadang buatku tersipu Malu manisnya ucapanmu, membuatku tak menentu Ku tak tahu harus bagaimana Sungguh kau buatku bertanya-tanya Dengan teka-teki teka-tekimu Mungkinkah ku temukan jawaban Teka-teki teka-tekimu Sadarkah dirimu akan apa yang ku rasa Haruskah diriku menyatakan yang sesungguhnya Malu manisnya ucapanmu, membuatku tak menentu Ku tak tahu harus bagaimana Sungguh kau buatku bertanya-tanya Dengan teka-teki teka-tekimu Mungkinkah ku temukan jawaban Teka-teki teka-tekimu Sungguh kau buatku bertanya-tanya Dengan teka-teki teka-tekimu Mungkinkah ku temukan jawaban Teka-teki teka-tekimu Terkadang ku merasa hampir tak mampu Menghadapi kamu dan semua tanda tanyamu Sungguh kau buatku bertanya-tanya Dengan teka-teki teka-teki teka-tekimu Mungkinkah ku temukan jawaban Teka-teki teka-tekimu Sungguh kau buatku bertanya-tanya Dengan teka-teki teka-tekimu Mungkinkah ku temukan jawaban Teka-teki teka-tekimu Engkau

Jangan Pergi Rangga...

3, 2, 1 !!!! Teeeeet!! “Selamat tahun baru!!!!” “Hahahahaha” Suara terompet dan petasan yang begitu memekakan berlomba-lomba memeriahkan detik pergantian tahun 2015. Napas yang begitu kuat meniupkan terompet seakan melepas semua kenangan di tahun lalu dan siap menyongsong tahun baru. Tawa yang teriring bersamaan menandakan kebahagiaan yang akan menuntun di tahun ini. Langit walaupun sempat suram seakan memberikan kesempatan untuk petasan dan kembang api menampakan keelokannya. Aku hanya tersenyum sambil merebahkan badan di ujung genteng rumahku, menikmati indahnya bunga-bunga api dan pengangnya kota jakarta saat tahun baru. Pikiranku terus melayang-layang, ke masa lalu dan ke masa depan. Apa kesalahanku dan apa pencapaianku. “Woi!! Nona pemimpi!! Tahun baru nih... nanti lagi mimpinya, seneng-seneng dulu kita.” Teriak seseorang dibawahku. “Apa... gua juga lagi seneng-seneng nih liatin petasan. Berisik ah! Sana bakar lagi jagung, sisain gue ya.” Balasku sedikit berteriak